Kamis, 14 Juni 2012

MAKALAH MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
MBS sebagai model manajemen pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar terhadap sekolah, memberikan fleksibilitas, dan mendorong partisipasi stakeholder secara langsung untuk meningkatkan mutu sekolah yang akan menciptakan keterbukaan, kerjasama yang kuat, akuntabilitas, dan demokrasi pendidikan. MBS dipahami sebagai salah satu alternative untuk mengelola struktur penyelenggaraan pendidikan yang menempatkan sekolah sebagai unit utama peningkatan. MBS juga merupakan cara untuk meningkatkan motivasi kepala sekolah agar tanggung jawab terhadap mutu peserta didik. Untuk itu, kepala sekolah sebagai pemimpin sebaiknya mengembangkan program pendidikan secara menyeluruh dalam melayani segala kebutuhan peserta didik. Kepemimpinan sekolah yang kuat adalah kepemimpinan yang efektif, tangguh, mampu menggunakan fakta, menciptakan visi, memotivasi orang, memberdayakan stafnya, mampu memimpin dan memiliki keahlian dalam arti sebenarnya.
Dalam pelaksanaan MBS, tidak hanya factor kepemimpinan yang diperhatikan, tetapi ada koordinasi dan komunikasi yang harus selalu terjalin di antara stakeholder yang terkait dengan sekolah. Sekolah yang melaksanakan MBS juga perlu di evaluasi dan di supervise untuk mengetahui seberapa besar peningkatan yang telah dicapai. Partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan MBS. Yang perlu di monitor dan dievaluasi dalam MBS adalah konteks atau eksternal lsekolah yang berupa tuntutan dan dukungan, yang di dalamnya ada evaluasi kebutuhan, input, proses, output, dan outcome. Indicator keberhasilan MBS ditentukan oleh kualitas pendidikan, pemerataan pendidikan, efektivitas dan efisiensi pendidikan, dan tata pengelolaan sekolah yang baik.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai organisasi MBS dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan dalam MBS ?
2. Bagaimana koordinasi dan komunikasi dalam MBS ?
3. Apa saja yang harus di supervisi dalam MBS ?
4. Apa yang perlu dimonitor dan dievaluasi dalam MBS ?
5. Bagaimana peran masyarakat dan komite dalam MBS ?
6. Apa saja yang menjadi indicator keberhasilan dalam MBS ?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan dalam MBS
1. Pengertian
a. Menurut Sutisna, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu. (Mulyasa,2009:107)
b. Menurut Soepardi, kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu) serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien. (Mulyasa,2009:107)
2. Gaya Kepemimpinan
Adalah cara yang digunakan pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Thoha (Mulyasa,2009) mengartikan sebagai norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
a. Pendekatan Sifat
Menurut Sutisna, pada pendekatan terdapat sifat – sifat tertentu, seperti kekuatan fisik atau keramahan yang esensil pada kepemimpinan yang efektif. Pendekatan ini menyarankan beberapa syarat yang harus dimiliki pemimpin yaitu : (a) kekuatan fisik dan susunan syaraf; (b) penghayatan terhadap arah dan tujuan; (c) antusiasme; (d) keramah tamahan; (e) integritas; (f) keahlian teknis; (g) kemampuan mengambil keputusan; (h) inteligensi; (i) keterampilan memimpin; (j) ketrampilan memimpin; (k) kepercayaan (Tead)
Namun sayangnya, pendekatan ini tidak mampu menjawab pertanyaan di sekitar kepemimpinan.
b. Pendekatan Perilaku
(1) Studi Kepemimpinan Universitas OHIO
Ada 2 dimensi utama dari perilaku pemimpin, yaitu pembuatan inisiatif (initiating structure) dan perhatian ( consideration). Inisiatif, artinya pemimpin memberi batasan dan struktur terhadap peranannya dan peran bawahannya untuk mencapai tujuan. Konsiderasi, diartikan derajat dan corak hubungan seorang pemimpin dengan bawahannya yang ditandai saling percaya, menghargai dan menghormati dengan bawahannya. Kombinasi 2 dimensi tersebut akan menghasilkan 4 gaya kepemimpinan.
(2) Studi Kepemimpinan Universitas Michigan
Hersey & Blanchard mengidentifikasi dua konsep, yaitu bawahan dan produksi. Pemimpin yang menekankan pada orientasi bawahan menganggap setiap karyawan penting dan menerimanya sebagai pribadi. Sedangkan pemimpin yang menekankan pada orientasi produksi dan aspek kerja, bawahan dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi. Ini sama dengan tipe otoriter (task) dan demokrasi (relationship).
(3) Jaringan Manajemen (Managerial Grid)
Dikembangkan oleh Blake & Mouton, menurut mereka manajemen berhubungan dengan 2 hal, yaitu (a) perhatian menekankan pada produksi / tugas : menekankan mutu pelayanan staf, efisiensi kerja, dan jumlah pengeluaran ; (b) perhatian pada orang – orang : memperlihatkan keterlibatan anak buah untuk mencapai tujuan (aspek yang menyangkut harga diri anak buah, tanggung jawab berdasarkan kepercayaan, suasana kerja yang menyenangkan, dan hubungan yang harmonis).
(4) Sistem Kepemimpinan Likert
Ia mengembangkan teori kepemimpinan dua dimensi, yaitu orientasi tugas dan individu. Ia merancang 4 sistem kepemimpinan sebagai berikut :
a) Sistem 1 : sangat otokratis →kepercayaan pada bawahan sedikit, suka mengeksploitasi bawahan, bersikap paternalistic, memotivasi dengan ketakutan dan hukuman, penghargaan diberikan secara kebetulan (occasional rewards), komunikasi turun ke bawah serta membatasi pengambilan keputusan di tingkat atas.
b) Sistem 2 : otokratis baik hati (Benevolent Authoritative) → kepercayaan terselubung, percaya pada bawahan, mau memotivasi dengan hadiah dan ketakutan berikut hukuman, membolehkan adanya komunikasi ke atas, mendengarkan pendapat / ide dari bawahan, dan membolehkan delegasi wewenang dalam proses keputusan.
c) Sistem 3 : Manajer konsultatif → sedikit kepercayaan pada bawahan, mau melakukan motivasi dengan penghargaan dan hukumanyang kebetulan dan berkehendak melakukan partisipasi, hubungan komunikasi ke atas dank e bawah, membuat keputusan dan kebijakan yang luas pada tingkat atas, tetapi keputusan mengkhususkan pada tingkat bawah.
d) Sistem 4 : Partisipatif (Partisipative Group) → kepercayaan yang sempurna terhadap bawahan, mengandalkan bawahan untuk mendapatkan ide / pendapat serta mempunyai niat untuk menggunakan pendapat bawahan secara konstruktif, penghargaan bersifat ekonomis berdasarkan partisipasi kelompok dan keterlibatannya pada setiap urusan, mendorong untuk ikut tanggung jawab buat keputusan dan melaksanakan keputusan dengan tanggung jawab yang benar.
c. Pendekatan Situasional
Teori Kepemimpinan Kontingensi
Menurut Fiedler & Chemers, menjadi pemimpin bukan karena faktor kepribadian tetapi karena berbagai factor situasi (saling berhubungan antara pemimpin dengan situasi). Tiga factor yang harus diperhatikan yaitu hubungan antara pemimpin dengan bawahan, struktur tugas, dan kekuasaan yang berasal dari organisasi. Dua jenis gaya kepemimpinan dan dua tingkat yang menyenangkan adalah mengutamakan tugas dan hubungan kemanusiaan.
Teori Kepemimpinan Tiga Dimensi (Reddin, dari Universitas New Brunswick, Canada)
Menurutnya ada 3 dimensi yang dipakai untuk menentukan gaya kepemimpinan, yaitu perhatian pada produksi/tugas, perhatian pada orang, dimensi efektifitas. Ini sama dengan jaringan manajemen yang memiliki 4 dasar kepemimpinan yaitu integrated, related, separated, dan dedicated. Apabila dilihat dari segi efektif dan tidak efektif akan menjadi 7 gaya kepemimpinan, yaitu :
• Gaya integrated, dikembangkan secara efektif → Gaya eksekutif.
• Gaya integrated, dikembangkan tidak efektif → Gaya compromiser.
• Gaya separated, dikembangkan secara efektif → Gaya bureaucrat.
• Gaya separated, dikembangkan tidak efektif → Gaya deserter.
• Gaya dedicated, dikembangkan secara efektif → Gaya benevolent authocrat.
• Gaya related, dikembangkan secara efektif → Gaya developer.
• Gaya related, dikembangkan tidak efektif → Gaya missionary.
Yang termasuk gaya efektif yaitu (a) executive : perhatian pada tugas maupun hubungan kerja dalam kelompok; (b) developer : perhatian tinggi terhadap hubungan kerja dalam kelompok dan perhatian minim terhadap tugas dan pekerjaan; (c) benevolent authocrat : perhatian tinggi terhadap tugas dan rendah dalam hubungan kerja; (d) birokrat : perhatian rendah terhadap tugas maupun hubungan. Sedangkan gaya tidak efektif yaitu (a) compromiser : perhatian tinggi pada tugas maupun hubungan kerja; (b) missionary : perhatian tinggi pada hubungan kerja dan rendah pada tugas; (c) autocrat : perhatian tinggi pada tugas dan rendah pada hubungan; (d) deserter perhatian rendah pada tugas dan hubungan kerja.
Teori Kepemimpinan Situasional
Teori ini di dasarkan pada hubungan 3 faktor, yaitu perilaku tugas (Task behavior) yang merupakan pemberian petunjuk, perilaku hubungan (Relationship behavior) adalah ajakan melalui komunikasi zarah, serta kematangan (Maturity) yang merupakan kemampuan dan kemauan anak buah dalam mempertanggung jawabkan. Kematangan (maturity) merupakan factor dominan.
Menurut teori ini, gaya yang tepat untuk diterapkan adalah : (a) Gaya mendikte (Telling) : diterapkan pada anak buah dengan tingkat kematangan rendah; (b) Menjual (Selling) : diterapkan pada anak buah taraf rendah hingga moderat; (c) Melibatkan diri ( Participating) : diterapakan pada anak buah moderat hingga tinggi; (d) Mendelegasikan (Delegating) : diterapkan pada anak buah yang memiliki kemampuan dan kemauan tinggi.
3. Kepemimpinan Dalam Peningkatan Kinerja
a. Pembinaan disiplin (self-disipline)
Disiplin merupakan sesuatu yang penting untuk menanamkan rasa hormatterhadap kewenangan, menanamkan kerja sama dan merupakan kebutuhan untuk berorganisasi serta untuk menanamkan rasa hormat terhadap orang lain. Soelaeman mengemukakan bahwa pemimpin berfungsi sebagai pengemban ketertiban yang patut diteladani, tetapi tidak di harapkan sikap yang otooriter. Taylor dan User, strategi umum membina disiplin antara lain :
• Konsep diri : factor penting setiap perilaku. Untuk menumbuhkan, pemimpin bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka sehingga pegawai dapat mengeksplorasi pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.
• Ketrampilan berkomunikasi : pemimpin harus menerima semua perasaan pegawai dengan teknik komunikasi yang dapt menimbulkan kepatuhan dari dalam dirinya.
• Konsekuensi logis dan alami.
• Klarifikasi nilai : membantu pegawai menjawab pertanyaan sendiri tentang nilai dan membentuk system nilai sendiri.
• Latihan keefektifan pemimpin : tujuannya untuk menghilangkan metode represif dan kekuasaan.
• Terapi realitas : pemimpin bersikap positif dan tanggung jawab untuk menerapkan perlu melihat situasi dan paham factor yang mempengaruhi.
b. Pembangkitan motivasi
Merupakan factor dominan kearah efektivitas kerja. Menurut Maslow, motivasi adalah tenaga pendorong dari dalam yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu atau berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Ada 2 jenis motivasi menurut Owen, yaitu instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang dating dari dalam diri seseorang, sedangkan ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang. Istilah motivasi sering digunakan secara bergantian dengan istilah kebutuhan (need), keinginan (want), dorongan (drive), dan gerak hati (impuls). Berikut ini adalah teori – teori motivasi :
a) Teori Maslow : teori hierarkhi kebutuhan
Maslow membagi kebutuhan manusia dalam 5 kategori :
• Kebutuhan fisiologis (psysiological needs) : merupakan kebutuhan paling rendah, memerlukan pemenuhann yang paling mendesak (contoh : makanan, minuman).
• Kebutuhan rasa aman (safety needs) : memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan lingkungan (contoh : pakaian, rumah)
• Kebutuhan kasih sayang (belongingness & love needs) : mengadakan hubungan afektif / ikatan emosional dengan individu lain, sesame jenis maupun lain jenis.
• Kebutuhan akan rasa harga diri (esteem needs) : penghargaan dari diri sendiri dan dari orang lain.
• Kebutuhan akan aktualisasi diri (need for self actualization) : kebutuhan paling tinggi, akan muncul jika kebutuhan di bawahnya terpenuhi.
b) Teori Dua Faktor
Dikembangkan oleh Fredrick Herzberg. Dia berpendapat ada dua factor penting, yaitu hygiene (lingkungan) dan motivator (pekerjaan itu sendiri). Factor hygiene bersifat preventif terhadap ketidakpuasan dan tidak memotivasi karyawan dalam bekerja.
c) Teori Alderter
Alderter membedakan 3 kelompok kebutuhan, yaitu kebutuhan akan keberadaan (existence), kebutuhan berhubungan (relatedness), dan kebutuhan untuk bertumbuh (growth need).
d) Teori Prestasi McCelland
McCelland mengatakan bahwa setiap orang mempunyai keinginan untuk melakukan karya yang berprestasi / yang lebih baik dari karya orang lain. Ada 3 kebutuhan manusia, yaitu berprestasi, berafilisasi, dan kekuasaan. Ketiganya merupakan unsur penting dalam menentukan prestasi seorang pekerja.

e) Teori X dan Teori Y
Dikembangkan oleh McGregor. Menurutnya, cirri organisasi tradisional pada dasarnya bertolak dari asumsi mengenai sifat dan motivasi manusia.
Teori X menganggap sebagian manusia lebih suka di perintah dan tidak tertarik rasa tanggung jawab, masih bersifat anak – anak, tidak suka bekerja, berkemampuan kecil untuk mengatasi masalah organisasi, dan hanya butuh motivasi fisiologi. Oleh karena itu, perlu diawasi secara ketat.
Teori Y menganggap manusia suka bekerja, dapat mengontrol diri sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk berkreativitas. Oleh karena itu, tidak perlu diawasi ketat.
Kebutuhan terbagi menjadi dua jenis, primer (fisiologis) dan sekunder (sosio psikologis). Ada beberapa prinsip untuk memotivasi pegawai untuk meningkatkan kinerja, yaitu kegiatan yang menarik dan menyenangkan, tujuan kegiatan disusun jelas dan di informasikan, pegawai juga dilibatkan dalam penyusunan tujuan, pemberitahuan hasil kerja, pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, memanfaatkan sikap, cita-cita,dan rasa ingin tahu pegawai, memperhatikan perbedaan individual pegawai, memenuhi kebutuhan dengan memperhatikan kondisi fisik, member rasa aman, menunjukkan bahwa pemimpin memperhatikan mereka, dan mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga pegawai memperoleh kepuasaan dan penghargaan.
Castetter mengemukakan 4 kriteria kinerja yaitu : karakteristik personil (kinerja meliputi kemampuan, ketrampilan, kepribadian, motivasi), proses (kecocokan dengan standar kinerja yang telah ditentukan), hasil (hasil nyata kualitas / kuantitas), serta kombinasi ketiganya. Menurut Mitchell criteria kinerja dalam Area Performance adalah kualitas kerja, ketepatan, inisiatif, kemampuan, dan komunikasi. Sedangkan Steers menggunakan 3 faktor untuk menilai kinerja yaitu kemampuan dan minat pegawai, kejelasan penerimaan atas peranan pegawai, dan tingkat motivasi pegawai. Kriteria menilai kinerja pegawai dalam MBS antara lain, pemahaman tentang tugas dan tanggung jawab, kemampuan dan keterampilan, semangat yang tinggi, serta berinisiatif dan berkemampuan tinggi.

c. Penghargaan (rewards)
Penghargaan penting untuk meningkatkan kegiatan produktif dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Penggunaannya sebaiknya secara efektif dan efisien agar tidak menimbulkan dampak negatif.
4. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Efektif
Kriteria kepemimpin kepala sekolah yang efektif, kriterianya :
a. Mampu memberdayakan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang baik, lancer, dan produktif.
b. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan tepat waktu.
c. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat, melibatkan masyarakat secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
d. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah.
e. Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Menurut Pidarta (dalam Mulyasa,2009:126), tiga keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah antara lain ketrampilan konseptual ( memahami dan mengoperasikan organisasi), ketrampilan manusiawi (kerja sama, memotivasi dan memimpin), ketrampilan teknik (menggunakan pengetahuan, metode, teknik, serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu). Untuk memiliki ketrampilan konsep, diharapkan melakukan kegiatan sebagai berikut : senantiasa belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama cara kerja guru dan pegawai sekolah lain, melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana, membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan, memanfaatkan hasil penelitian orang lain, berfikir untuk masa yang akan dating, merumuskan ide yang dapat di uji cobakan, menerapkan gaya kepemimpinan yang efektif sesuai dengan situasi dan kebutuhan serta motivasi para guru dan pekerja lain.



B. KOORDINASI, KOMUNIKASI, dan SUPERVISI DALAM MBS
1. Koordinasi dalam MBS
Coordination, berasal dari bahasa latin cum, artinya berbeda-beda, sedangkan ordinare, artinya penyusunan/penempatan sesuatu pada keharusannya. Dalam MBS koordinasi berkaitan dengan penempatan berbagai kegiatan yang berbeda – beda pada keharusan tertentu sesuai aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya melalui proses yang tidak membosankan. Handayaningrat (dalam Mulyasa,2009:133) mengemukakan karakteristik koordinasi sebagai berikut :
a. Tanggung jawab koordinasi terletak pada pimpinan
b. Koordinasi adalah kerja sama
c. Koordinasi merupakan proses yang terus menerus (continue process)
d. Pengaturan usaha kelompok secara teratur
e. Kesatuan tindakan merupakan inti koordinasi
f. Tujuan koordinasi adalah tujuan bersama
Ada lima prinsip utama yang harus diperhatikan agar koordinasi berjalan lancar, antara lain : koordinasi harus dimulai dari tahap perencanaan awal, menciptakan iklim yang kondusif bagi kepentingan bersama, koordinasi merupakan proses yang terus menerus dan berkesinambungan, koordinasi merupakan pertemuan-pertemuan bersama untuk mencapai tujuan, serta perbedaan pendapat harus diakui sebagai pengayaan dan harus dikemukakan secara terbuka dan diselidiki dalam kaitannya dengan situasi secara keseluruhan.
a. Manfaat koordinasi dalam MBS
(1) Menghilangkan dan menghindarkan perasaan terpisahkan satu sama lain antara pengawas, kepala sekolah, guru, dan para petugas/personalia di sekolah.
(2) Menghindarkan perasaan / pendapat bahwa dirinya / jabatannya merupakan paling penting.
(3) Mengurangi / menghindarkan kemungkinan timbulnya pertentangan antar sekolah / antar pejabat dan pelaksana.
(4) Menghindarkan timbulnya rebutan fasilitas.
(5) Menghindarkan terjadinya peristiwa menunggu yang memakan waktu lama.
(6) Menghindarkan kemungkinan terjadinya kekembaran pekerjaan sesuatu kegiatan oleh sekolah.
(7) Menghindarkan kemungkinan terjadinya kekosongan pekerjaan sesuatu program oleh sekolah / kekosongan pekerjaan tugas oleh kepala sekolah.
(8) Menumbuhkan kesadaran kepala sekolah untuk saling memberikan bantuan satu sama lain terutama bagi mereka yang berada dalam wilayah yang sama.
(9) Menumbuhkan kesadaran kepala sekolah untuk saling memberi tahu masalah yang dihadapi bersama dan bekerja sama dalam memecahkannya.
(10) Memberikan jaminan tentang kesatuan langkah diantara para kepala sekolah/guru.
(11) Menjamin adanya kesatuan kebijaksanaan diantara kepala sekolah dalam wilayah tertentu.
(12) Menjamin adanya kesatuan sikap diantara kepala sekolah.
(13) Manfaat utama koordinasi yaitu, menumbuhkan sikap egaliter serta meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan diantara kepala sekolah maupun guru dengan tetap menghargai kewajiban dan wewenang masing-masing.
b. Macam – macam koordinasi
Handayaningrat mengemukakan koordinasi berdasarkan hubungan antara pejabat yang mengkoordinasi dan pejabat yang dikoordinasi, sebagai berikut:
1) Koordinasi intern
• Koordinasi vertical / structural : antara yang mengkoordinasi dengan yang dikoordinasi terdapat hubungan hierarkis, satu dengan yang lain berada pada satu garis komando (line of command).
• Koordinasi horizontal, yaitu koordinasi fungsional : kedudukan yang mengkoordinasi dengan yang dikoordinasi setingkat eselonnya.
• Koordinasi diagonal, yaitu koordinasi fungsional : yanh memhkoordinasi menpunyai kedudukan lebih tinggi eselonnya disbanding yang di koordinasi, tetapi satu sama lain tidak berada pada satu garis komando.
2) Koordinasi ekstern
Termasuk dalam koordinasi fungsional, bersifat horizontal dan diagonal. Siagian mengelompokkan koordinasi sebagai berikut : (a) koordinasi menjadi atasan dengan bawahan yang disebut koordinasi vertical; (b) koordinasi diantara sesame pejabat yang setingkat dengan instansi; (c) koordinasi fungsional : koordinasi antar instansi, tiap instansi mempunyai tugas dan fungsi dalam suatu bidang tertentu.
c. Cara melakukan koordinasi
Sutarto mengungkapkan cara melakukan koordinasi antara lain dengan : (1) mengadakan pertemuan informal antar pejabat; (2) mengadakan pertemuan formal antar pejabat; (3) membuat edaran berantai kepada mengadakan pertemuan informal antar pejabat; pejabat yang d mengadakan pertemuan informal antar pejabat;iperlukan; (4) menyebar kartu pada pejabat yang diperlukan; (5) mengangkat coordinator; (6) membuat buku pedoman lembaga, buku pedoman tata kerja, dan buku pedoman kumpulan peraturan; (7) berhubungan melalui alat perhubungan / telepon; (8) membuat tanda-tanda; (9) membuat symbol; (10) membuat kode; (11) bernyanyi bersama.
Hakekatnya koordinasi dilakukan secara formal, yaitu upaya impersonal dengan membuat peraturan dan mengangkat pejabat, serta secara informal, yaitu pembicaraan dan konsultasi. Manajemen Berbasis Sekolah merupakan pendekatan proses dan pendekatan tugas (koordinasi mencakup seluruh program pengelolaan terhadap setiap subjek, objek dan bidang garapan sekolah).
2. Komunikasi dalam MBS
a. Komunikasi Intern
1) Dasar, Tujuan, dan Manfaat
• Dasar : komunikasi yang baik antara berbagai personil harus dikembangkan untuk mencapai hasil seoptimal mungkin. Kurang komunikasi akan mengakibatkan kurangnya hasil yang dapat diwujudkan, bahkan sering gagal mencapai tujuan.
• Tujuan : menciptakan kondisi menarik dan hangat, personil dapat bekerja terdorong untuk berprestasi lebih baik dan mengerjakan tugas mendidik dengan penuh kesadaran.
• Manfaat : mudah dalam memecahkan / menyelesaikan masalah dengan bantuan orang (diskusi).

2) Prinsip Komunikasi
Karakteristik hubungan professional antara lain dipengaruhi “tata karma” professional, terbuka untuk mengemukakan pendapat, keputusan diambil berdasarkan pertukaran pendapat dan memberikan keputusan yang bersifat pedoman, bukan sesuatu yang tegas dan praktis. Kepala sekolah perlu memperhatikan prinsip dibawah ini :
• Bersikap terbuka, tidak memaksakan kehendak tetapi bertindak sebagai fasilitator (demokratis dan kekeluargaan).
• Mendorong guru untuk mau dan mampu memecahkan masalah, serta mendorong aktivitas dan kreativitas guru.
• Mengembangkan kebiasaan untuk berdiskusi secara terbuka dan mendidik guru untuk mau mendengar pendapat orang lain secara objektif.
• Mendorong untuk mengambil keputusan yang baik dan mentaatinya.
• Berlaku sebagai pengarah, pengatur pembicaraan, perantara dan pengambil kesimpulan secara redaksional.
3) Memecahkan Masalah Bersama di Sekolah
• Kegiatan pertemuan yang bersifat teratur dan berkala.
• Guru bergiliran mengemukakan pendapat.
• Peningkatan pengetahuan dan kemampuan professional dengan mengungkapkan pengetahuan yang diperoleh dengan guru lain (diskusi).
b. Komunikasi Ekstern
1) Hubungan Sekolah dengan Orang Tua
Tujuan : saling membantu dan saling isi mengisi mengenai bantuan keuangan dan barang-barang, untuk mencegah perbuatan yang kurang baik, dan bersama-sama membuat rencana yang baik untuk sang anak.
Cara menjalin hubungan sekolah dengan orang tua :
• Melalui dewan sekolah : tujuannya untuk membantu menyukseskan kelancaran proses belajar mengajar di sekolah baik menyangkut perencanaan, pelaksanaan,dan penilaian.
• Melalui BP3 : memberi bantuan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (masalah sarana prasarana penunjang KBM).
• Melalui pertemuan penyerahan buku laporan pendidikan : pemberian penjelasan tentang kegiatan belajar mengajar serta prestasi peserta didik dan kelemahan yang perlu ditingkatkan.
• Melalui ceramah ilmiah : menghadirkan ahli untuk menyampaikan permasalahan dan pemecahannya dalam forum tersebut.
Hubungan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti ; (a) proses belajar mengajar : memberi bantuan dan kemudahan belajar kepada peserta didik; (b) bidang pengembangan bakat : pembinaan dan pengembangan bakat agar berkembang optimal; (c) bidang pendidikan mental : untuk menghadapi peserta didik dengan masalah kesulitan belajar karena kondisi yang kacau; (d) bidang kebudayaan : penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, penanaman cinta terhadap budaya dan produk dalam negeri.
Memecahkan Masalah Bersama
Masalah dapat diklasifikasikan sebagai berikut : masalah yang berhubungan dengan tubuhnya, mentalnya, dan belajarnya.
Bila masalah tidak dapat diselesaikan / dilayani di sekolah, guru perlu menyarankan ke SLB/A : tuna netra, SLB/B : tuna rungu-bicara, SLB/C : mental, SLB/D : cacat tubuh, SLB/E : tuna laras.
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, guru menanamkan pengertian agar anak tersebut tidak menjadi cemoohan. Guru secara santun memberitahukan kondisi tersebut kepada orang tuanya agar dapat memahami dan menerima kondisi tersebut. Adanya kerjasama humois agar tidak ada salah pengertian dan kerjasama dalam menyelesaikan dan mencari jalan pemecahannya.
2) Hubungan Sekolah dengan masyarakat
Tujuannya ada 2 dimensi :
• Kepentingan sekolah : memelihara kelangsungan hidup sekolah, meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, memperlancar kegiatan belajar mengajar, memperoleh bantuan dan dukungan dari masyarakat dalam rangka pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
• Kebutuhan sekolah : memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperoleh kemajuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, memperoleh kembali anggota masyarakat yang terampil dan makin meningkatkan kemampuannya.
• Saling membantu, mengisi dan menggalang bantuan keuangan serta barang
• Program kegiatan luar sekolah, mwaktu libur, pengisi waktu luang.
• Membantu pengadaan alat peraga, perpustakaan sekolah, beasiswa / orang tua asuh.
• Bidang kerjasama
o pendidikan kesenian : pengembangan / pembinaan bakat seni dengan membentuk perkumpulan kemudian dikembangkan.
o pendidikan olahraga : manusia berkualitas yang dicita-citakan adalah yang sehat jasmani dan rohani.
o proses keterampilan : kerjasama dengan lembaga dan yayasan di masyarakat untuk menekan dana yang dikeluarkan
o pendidikan anak berkelainan : membentuk lembaga penyelenggara sekolah luar biasa / memberi bantuan khusus bagi anak yang memerlukan.
Hubungan dapat dijalin dengan melalui dewan sekolah, melalui rapat BP3, melalui rapat bersama, konsultasi, radio, tv, surat, telepon, pameran sekolah (pameran hasil karya peserta didik, pementasan,dan mencari dana) , serta melalui ceramah.

C. Supervisi dalam MBS
1. Hakikat Supervisi
Secara etimologi kata super dan visi mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktivitas, kreativitas dan kinerja bawahan. Istilah yang hampir sama dengan supervisi, yaitu pengawasan. Pengawasan adalah kegiatan untuk melakukan pengamatan agar pekerjaan dilakukan sesuai dengan ketentuan. Pemeriksaan maksudnya untuk melihat bagaimana kegiatan yang dilaksanakan telah mencapai tujuan. Inspeksi itu digunakan untuk mengetahui kekurangan- kekurangan atau kesalahan yang perlu diperbaiki dalam suatu pekerjaan. Dalam MBS, supervise ditekankan pada pembinaan dan peningkatan kemampuan serta kinerja tenaga kependidikan di sekolah dalam melaksanakan tugas.
Dalam Carter Good’s dictionary of Education (dalam Mulyasa,2009:155), supervisi adalah segala usaha pejabat sekolah dalam memimpin guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan dan perkembangan jabatan guru-guru, menyeleksi dan merevisi tujuan –tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode-metode mengajar serta evaluasi pengajaran.
Sutisna mendeskripsikan supervise sebagai bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Supervisi adalah suatu kegiatan pembelajaran yang disediakan untuk membantu para guru dalam menjalankan pekerjaan agar lebih baik. Menurut Wiles, supervisi yang baik hendaknya mengembangkan kepemimpinan dalam kelompok, membangun program satu tahun dalam jabatan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan guru dalam menilai hasil pekerjaannya. Sahertian mengartikan supervise sebagai usaha mengawali, mengarahkan, menkoordinasi dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran sehingga dapat menstimulasi dan membimbing pertumbuhan tiap murid secara kontinyu sehingga dapat lebih cepat berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.
2. Tujuan dan Fungsi
Tujuan supervisi adalah membantu dan memberikan kemudahan kepada para guru untuk belajar bagaimana meningkatkan kemampuan mereka guna mewujudkan tujuan belajar peserta didik. Sementara Ametembun mengungkapkan bahwa tujuan supervisi adalah :
o Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk lebih memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya dan peranan sekolah dalam merealisasikan tujuan tersebut.
o Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif.
o Membantu kepala sekolah dan guru mengadakan diagnosis secara kritis terhadap aktivitas-aktivitasnya dan kesulitan-kesulitan belajar mengajar serta menolong mereka merencanakan perbaikan.
o Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru serta warga sekolah lain terhadap cara kerja yang demokratis dan komprehensif serta memperbesar kesediaan untuk tolong menolong.
o Memperbesar semangat guru-guru dan meningkatkan motivasi berprestasi untuk mengoptimalkan kinerja secara maksimal dalam profesinya,
o Membantu kepala sekolah untuk mempopulerkan pengembangan program pendidikan disekolah kepada masyarakat.
o Melindungi orang-orang yang disupervisi terhadap tuntutan-tuntutan yang tidak wajar dan kritik-kritik yang tidak sehat dari masyarakat.
o Membantu kepala sekolah dan guru dalam mengevaluasi aktivitasnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.
o Mengembangkan Rasa persatuan dan kesatuan (kolegiatas) di antara guru.
Setiap supervisor pendidikan harus memahami dan mampu melaksanakan supervise sesuai fungsi dan tugas pokoknya baik yang menyangkut penelitian, penilaian, perbaikan maupun pengembangan. Penelitian merupakan kegiatan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang situasi pendidikan yang akhirnya diperoleh data dan info sebagai dasar untuk menganalisis, hasil analisisnya dan kesimpulan digunakan sebagai bahan pertimbangan. Penilaian adalah tindak lanjut untuk mengetahui hasil penelitian lebih jauh, untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi situasi pendidikan dan pengajaran yang telah diteliti sebelumnya. Perbaikan merupakan hasil penilaian dan penelitian. Tugas supervisor dalam hal ini adalah mencari jalan pemecahan, mengarahkan perbaikan, meningkatkan keadaan, dan melakukan penyempurnaan. Pengembangan adalah upaya untuk senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kondisi yang sudah baik yang ditemukan dari hasil penelitian dan penilaian dengan memelihara, menjaga, dan meningkatkan hasil-hasil yang telah dicapai supaya kondisi dan situasi tersebut tidak mengalami penurunan, tetapi akan lebih baik dan meningkat, baik secara secara kuantitas maupun kualitas pelaksanaan secara simultan, konsisten, dan kontinyu. Gwyn (dalam Mulyasa,2009:159) merumuskan 10 tugas utama supervisor:
• Membantu guru mengerti dan memahami peserta didik
• Membantu mengembangkan dan memperbaiki, baik secara individual maupun secara bersama-sama.
• Membantu seluruh staf sekolah agar lebih efektif dalam melaksanakan proses belajar mengajar .
• Membantu guru meningkatkan cara mengajar yang efektif.
• Membantu guru secara individual.
• Membantu guru agar dapat menilai peserta didik lebih baik.
• Menstimulir guru agar dapat menilai diri dan pekerjaannya.
• Membantu guru agar merasa bergairah dalm pekerjaannya dengan penuh rasa aman.
• Membantu guru dalam melaksanakan kurikulumdi sekolah.
• Membantu guru agar dapat memberikan info yang seluas-luasnya kepada masyarakat tentang kemajuan sekolahnya.
3. Teknik Supervisi
a. Kunjungan dan observasi kelas
Kepala sekolah mengamati langsung guru saat melaksanakan tugas, mengajar, penggunaan alat, metode, teknik mengajar, secara keseluruhan dengan berbagai factor yang mempengaruhi. Ada tiga pola yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini, yaitu tanpa memberitahu guru, memberi tahu lebih dahulu, dan kunjungan atas undangan guru.
b. Pembicaraan individual
Merupakan alat supervise yang penting karena dalam kesempatan tersebut supervisor dapat bekerja secara individu dengan guru dalam memecahkan masalah pribadi yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
c. Diskusi kelompok / pertemuan kelompok
Merupakan kegiatan mengumpulkan sekelompok orang dalam situasi tatap muka dan interaksi lisan untuk bertukar info atau berusaha mencapai suatu keputusan tentang masalah bersama. Kegiatan diskusi kelompok dapat dikembangkan mlalui rapat sekolah untuk membahas bersama-sama masalah pendidikan dan pengajaran di sekolah itu.
d. Demonstrasi mengajar
Proses belajar mengajar yang yang dilakukan oleh seorang guru yang memiliki kemampuan dalam hal mengajar sehingga guru lain dapat mengambil hikmah dan manfaatnya. Tujuannya member contoh bagaimana cara melaksanakan proses belajar mengajar yang baik dalam menyajikan materi, menggunakan pendekatan, metode, dan media pembelajaran.
e. Perpustakaan professional
Ciri professional tercermin dalam kemauan untuk belajar secara terus menerus dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki tugas utamanya. Guru hendaknya merupakan kelompok “reading people” dan menjadi bagian dari masyarakat belajar yang menjadikan belajar sebagai kebutuhan hidup.
Selain teknik-teknik diatas, ada teknik lain yang bisa digunakan antara lain program orientasi, lokakarya, bulletin supervise, penelitian tindakan (action research), pengembangan kurikulum, rapat guru, bahkan penilaian diri sendiri berkaiatan dengan pelaksanaan tugas oleh para guru.

D. Monitoring dan Evaluasi
Hasil monitoring dan evaluasi dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, keberhasilan ME ditentukan oleh informasi yang cepat, tepat dan cukup untuk pengambilan keputusan. Monitoring (dalam Rokhmaniah,2008:37) adalah proses pemantauan untuk mendapatkan informasi pelaksanaan MBS. Sedangkan evaluasi ialah proses mendapatkan informasi tentang hasil MBS. Monitoring dan evaluasi memiliki tujuan yaitu mendapatkan informasi sebagai masukan dalam pengambilan keputusan dan member masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS baik konteks, input, proses, output, maupun outcome.
Komponen MBS yang perlu di monitoring dan di evaluasi adalah :
a. Konteks (eksternal sekolah) : berupa tuntutan (demand) dan dukungan (support) yang berpengaruh terhadap input sekolah. Evaluasinya dengan needs assessment.
b. Input
c. Proses
d. Output (dampak pendidikan jangka pendek)
e. Outcome (hasil MBS jangka panjang)


Ada 2 jenis ME :
• Internal : ME yang dilakukan oleh sekolah, tujuannya untuk mengetahui tingkat kemajuan sekolah sehubungan dengan sasaran – sasaran sekolah. Pelaksanaan ME internal adalah warga sekolah.
• Eksternal : ME yang dilakukan pihak luar sekolah seperti Dinas Pendidikan Kabupaten / Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pengawas, atau gabungan dari mereka.
• Hasil ME untuk system hadiah bagi sekolah, meningkatakan iklim kompetensi antar sekolah, kepentingan akuntabilitas sekolah, memperbaiki system yang ada secara menyeluruh, dan membantu sekolah mengembangkan dirinya.

E. Indikator Keberhasilan MBS
Yang menjadi factor keberhasilan MBS diantaranya adalah sebagai berikut (dalam Depdiknas,2007:59) :
1. Adanya pemerataan pendidikan (berupa kesamaan kesempatan antara siswa – siswa desa-kota, kaya miskin, laki-perempuan, cacat-tidak cacat).
2. Kualitas pendidikan (input, proses, output).
3. Efektivitas dan efisiensi pendidikan (angka kenaikan kelas, angka kelulusan, angka putus sekolah).
4. Tata pengelolaan sekolah yang baik ( melalui partisipasi, transparansi, tanggung jawab, akuntabilitas, wawasan ke depan, penegakan hukum, keadilan, demikrasi, prediktif, kepekaan, profesionalisme, efektivitas dan efisiensi, serta kepastian jaminan hukum).


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu secara efektif dan efisien. Kepemimpinan mencakup 3 hal yang saling berhubungan, yaitu pemimpin dan karakter, pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi.
Pada hakekatnya, koordinasi merupakan proses penyatupaduan kegiatan yang dilakukan pegawai di berbagai satuan lembaga sehingga dapat berjalan selaras dan serasi.
Supervise mengandung beberapa kegiatan pokok, yaitu pembinaan yang kontinyu, pengembangan kemampuan professional personil, perbaikan situasi belajar mengajar dengan sasaran akhir pencapaian tujuan pendidikan dan pertumbuhan pribadi peserta didik.
Monitoring adalah proses pemantauan untuk mendapatkan informasi pelaksanaan MBS. Sedangkan evaluasi ialah proses mendapatkan informasi tentang hasil MBS.



DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah.
Mulyasa. 2009. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung : Rosda Karya
Rokhmaniyah. 2008. Kompetensi Supervisi Manajerial. Direktorat Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional.
http://Layla-innocent.blogspot.com

Tidak ada komentar: